Sabtu, 17 Mei 2014

Benang Hidup (horror story)

Sejak mendengar cerita ini, banyak remaja Jepang yang mempercayai kebenaran cerita ini sehingga tak berani menindik telinganya.

Kisahnya bermula ketika seorang gadis seumuran SMP merengek ada orang tuanya untuk mengizinkannya menindik telinganya. Ia berkata bahwa semua anak perempuan di kelasnya sudah menindik telinganya, hanya ia saja yang belum. Kedua orang tuanya awalnya tak mengizinkan. Namun karena sang gadis merengek terus-menerus, merekapun akhirnya mengizinkannya. Orang tua gadis itu lalu memberinya sejumlah uang dan menyuruh gadis itu untuk menindik telinganya di toko perhiasan yang terpercaya di sebuah mall dekat rumah mereka.

Namun sang gadis berpikiran lain. Ia hendak menyimpan uang pemberian orang tuanya dan memutuskan untuk menindik telinganya sendiri. Iapun meminta sahabatnya untuk membantunya menindik telinganya. Mereka menggunakan jarum yang dipanaskan dan kemudian ditusukkan ke kedua cuping telinga gadis itu. Dia merasa sangat kesakitan, namun begitu melihat hasilnya, ia sangat puas. Ia kini bisa memakai anting-anting pilihannya dan tampil penuh gaya seperti gadis-gadis lain di sekolahnya.

Namun keesokan harinya ada yang aneh. Ia terbangun di pagi hari karena rasa gatal yang teramat sangat di telinganya. Rupanya cuping telinga yang ia tindik terlihat merah dan meradang.Tak hanya itu. Tampak seutas benang putih kecil menjulur dari lubang yang ia buat kemarin di cuping telinganya. Merasa penasaran, ia menarik benang itu. Benang itu sangat halus dan panjang. Ia menariknya terus-menerus, namun seakan-akan benang itu tak ada habis-habisnya. Merasa tak sabar, gadis itu mengambil gunting dan memotong benang putih itu. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Ia histeris dan memanggil kedua orang tuanya. Orang tuanya yang panik segera membawanya ke rumah sakit.

“Mengapa kau bisa jadi begini?” tanya sang dokter yang memeriksanya.

Sang gadis kemudian menceritakan segalanya.

Sang dokter menjawab dengan suara sedih,  “Maaf, tapi harus kukatakan bahwa kau akan mengalami hal ini seumur hidupmu.”

“Kenapa?” tanya gadis itu, tercekat.

“Benang putih yang kau potong itu bukan sembarang benang putih.”

“Benang apa itu?” tanya gadis itu, putus asa.

“Itu saraf matamu.”

Pelajaran Berharga

Suatu ketika seorang Ayah dari keluarga yg sangat kaya raya bermaksud memberi pelajaran kepada Anaknya agar Anaknya dapat mengetahui seperti apakah kehidupan orang miskin itu.
Lalu mereka pun menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yg sangat miskin, di sebuah dusun di tepi hutan. Dalam perjalanan pulang Sang Ayah bertanya kepada Anaknya...

Ayah : "Bagaimana perjalanan kita Nak?"
Anak : "Sangat menarik Yah"
Ayah : "Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup?"
Anak : "Ya Ayah"
Ayah : "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini?"
Anak : "Yang saya pelajari...
Kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, sedangkan Mereka memiliki empat anjing untuk berburu...
Kita punya kolam renang kecil di taman, Mereka punya sungai yang tiada batasnya!
Kita punya lampu untuk menerangi taman kita, Mereka memiliki bintang yang bersinar di malam hari (kunang kunang)
Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup, Mereka hidup bersama alam...
Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi Mereka hidup untuk
melayani orang lain...
Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita, Mereka punya banyak teman yang saling melindungi..."
Ayah : "......"
Sang Ayah tercengang diam tak menyangka akan mendengar jawaban yang keluar dari mulut Anaknya tersebut...Lalu Sang Anak melanjutkan...

"Terima kasih Ayah, karena Ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita..."
Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan? Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki...

Kamis, 15 Mei 2014

Baiklah, silahkan pergi


Hei, kemana kau selama ini?! Menghilang sesukamu dan datang semaumu juga. Sampai kapan? Sampai kapan aku harus bertahan dalam posisi sulit seperti ini? Menahan segala perasaan tentangmu, menahan semua khayalan ku tentangmu, tanpa pernah kau tahu.

Tak pernah kurasakan merindu sekuat ini padamu. Merindu yang membuatku sakit, sesak sendiri.
Aku selalu merasa kau pasti, selalu, dan akan tetap untukku, bagaimanapun itu. Egoisku. Ternyata aku salah, seiring waktu berputar, selama itu pula aku merasa kita semakin jauh. Dan kini, hanya sesak yang ku rasa. Bayanganmu pun tak dapat ku raih lagi.
Kamu bagaikan oksigen yang memberiku kehidupan. Bagaikan selimut yang selalu memberi kehangatan. Bagaikan angin yang memberiku kesejukan. Dan aku terlambat menyadari semua itu. Bodoh? Iya, mungkin aku bodoh. Oh tidak, bukan mungkin, tapi memang...

Aku mengerti, bukan maumu meninggalkanku seperti ini. Aku mengerti bahwa kamu hanya ingin melanjutkan studimu dan dengan cepat menggapai cita-citamu. Aku mengerti, sayang. Aku mengerti ini hanya masalah jarak dan waktu. Tapi apakah harus sesulit ini? Ingin rasanya ku tahu diri dan segera melepaskan ingatanku tentangmu. Tapi bagaimana bisa? Segala cara telah ku coba, namun kau kembali datang, memunculkan memori serta harapan yang mulai ku redam.

Kau tau, Aku masih ingat bagaimana saat itu kau meminta dukungan padaku, menceritakan segala sesuatu yag terjadi selama masa sulitmu, melewati semua tantangan di sekitarmu. Hei! Aku rindu! Kemana sosokmu sekarang??
Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak melihat tampang bodohmu, kelakuan konyolmu, jahilmu, dan sifat lembutmu. Aku rindu.., Aku rindu kamu mengusap manja rambutku, aku rindu bagaimana kamu memperlakukan aku seperti anak kecil yang selalu ingin dimanja. Aku rindu itu semua... Cepatlah pulang, ingin sekali rasanya aku memeluk tubuh jangkungmu lagi.

Oh, tidak, tidak! Atau begini saja, kalau kau memang ingin pergi dari hidupku, baiklah, silahkan pergi.., dan jangan kembali lagi. Jangan buat aku selalu ingin mengutuk nasibku sendiri yang tak pernah berubah, tak pernah berubah menjadi sosok yang penting dalam hidupmu...

Pergilah, dan jangan tutupi pintu hatiku bagi yang lain...