Rabu, 22 Oktober 2014

Bahagia Dalam Lara

Dulu, hari-hariku terasa penuh lara. Kesedihan yang tak kunjung reda terasa begitu menggerogoti hati. Mengenangnya ternyata hanya menyesakan dada. Membuat memori semakin penuh dengan luka lama. Enam tahun menghabiskan waktu bersama seseorang ternyata bukanlah waktu yang singkat. Dengan segala egonya yang membuatku terjerambat, memuakan jiwa hingga menusuk ke hati dan terasa begitu sesak.

Untuk beberapa kali aku berjanji menutup pintu hati. Menutup rapat semua sisi hati setelah luka lama sukses menggerogoti hati. Namun kini, kau hadir membawa beribu bahagia yang tidak dapat kuhitung lagi. Kekhawatiranku perlahan memudar, seiring hadirmu yang kini tepat di hadapanku, menggenggam erat hatiku tanpa ragu. Masa senduku di masa lalu kini telah berlalu pergi, sela-sela jemari yang kosong pun kini sudah terisi. Sama seperti relung hati yang entah sejak kapan tak pernah merasa kehangatan lagi.

Aku melihat sesuatu yang berbeda ada pada dirimu, sesuatu yang lain yang kasat mata. Beginikah rasanya bahagia ketika berhasil menemukan pelabuhan pilihan? Ketika merasa berhasil menata porsi hati yang rusak, lalu kembali menyediakan ruang untuk seseorang yang ku rasa tepat. Semesta kini seakan bersahabat denganku, tiap detik dalam hidupku terasa semakin berharga dengan hadirmu di sini, di sisiku.

Ternyata benar, masa lalu tak seharusnya kembali. Dan memang tak sepantasnya kembali--begitu seharusnya, bukan? Biarlah sesuatu yang 'pernah' indah di masa lalu kekal sebagai hal yang sudah jauh terlewat, dan tak seharusnya kembali dikunjungi.

-Dariku, yang mencintaimu tanpa titik.-

Selasa, 08 Juli 2014

CHIKA

“Chik, udah jam enam sore nih, ayo pulang.”  Ajak Jessi sambil menarik pelan tangan Chika.

“Mau sampai kapan bengong disini? Nanti orang tua lo nyariin, udah dong jangan sedih terus.”

Chika mengangguk tanda setuju, diraihnya tas selempang dari kursi dan segera beranjak dari café dan segera naik taksi.

“Sorry ya, Jess. Habis gimana, gue sedih banget sekarang Ghani berubah.” Wajah Chika terlihat sangat lesu, matanya menampakan sorot kesedihan.
 
“Iya, gue ngerti. Tapi ya sudahlah, sabar aja, mungkin Ghani lagi bosen.”

Chika bergidik.

 “Jadi maksud lo, Ghani bosen sama gue?” Dahinya mengerut.

“Hmm… Enggak.. hmm.. bukan gitu, Chika..” Jessi kikuk, gelagapan karena takut salah bicara pada Chika yang pikirannya sedang kalang kabut. “Maksud gue bosen sama suasananya, makanya dia lagi cari suasana baru.”

“Lo kayaknya tau banget tentang Ghani, apa dia curhat sama lo?” tanya Chika agak curiga.

“Hah? Ya, enggaklah Chik. Mana pernah Ghani curhat sama gue.” Jessi  agak kaget. “Kita ngobrol juga jarang, kalo gue lagi sama lo dan ada dia, kita juga nggak pernah  ngobrol banyak kan. Hehe.”

“Hmm.. Iya juga sih. “ Tatapan mata Chika masih kosong, terus memikirkan Ghani yang akhir-akhir ini berubah sikap padanya.

Jessi mengusap dahinya begitu mendengar jawaban Chika..

Sepanjang jalan mencurahkan isi hati, nggak terasa ternyata sudah sampai di rumah Chika. Chika pun turun dari taksi, melambaikan tangan kepada Jessi sambil mengucapkan terimakasih karena sudah mau mendengarkan semua ceritanya.  “Lanjut besok lagi ya!” ucap Jessi bersemangat, dan taksi berlalu dari rumah Chika.
***
Hari ini Chika masih terlihat murung, Ghani masih susah dihubungi, ia menghilang begitu saja bagai ditelan bumi tanpa ingat Chika sedikitpun. Chika sudah tidak tahan, seharian ini ia sudah mencari Ghani ke kelasnya, nggak ketemu, ke kantin juga nggak ada, ke semua sudut sekolahpun tetap tidak terlihat batang hidung lelaki yang sangat dicintainya itu, maklum, sudah lebih dari tiga tahun mereka pacaran.

“Aaargh! Ghani dimana sih? Sumpah, kesel!” Chika menjejak-jejakkan kaki dengan kesal ke lantai kelas.

“Jessi juga! Nggak masuk segala, hari ini kenapa nyebelin banget sih?! Semua yang dicari nggak ada!” Chika masih terus marah-marah sendirian, ia cuek, kelas sudah sepi karena bel sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.

Akhirnya Chika memutuskan untuk pergi ke mall, sekedar makan eskrim Baskin Robbin’s untuk mendinginkan hati dan isi kepalanya. Berhubung Jessi nggak masuk, akhirnya Chika pergi sendirian. Setelah puas menghabisnya satu cup eskrim berukuran besar, ia berjalan-jalan sebentar mengitari mall, melihat-lihat pernak-pernik lucu di toko yang menjual barang serba pink.

Lumayam, manjain mata sebentar. Pikirnya.

Ia keluar toko dengan dua buah kantung plastik belanjaannya, hatinya sudah mulai merasa agak damai. Namun baru sebentar kedamaian itu dirasa,ia sudah dihadapkan lagi dengan pemandangan mencengangkan.  Di seberang toko ia melihat Ghani yang sedang merangkul perempuan.

“Ghani? Iya itu Ghani!” Chika yakin itu Ghani. “ Astaga, siapa yang dirangkulnya? Ghani kan nggak punya saudara perempuan.”

Chika menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca. Perlahan-lahan ia menhampiri Ghani di seberang dan sengaja diam menunggu di depan, agar tidak terjadi keributan di dalam toko yang sedang di kunjungi Ghani dengan perempuannya. Tidak sampai sepuluh menit, mereka keluar. Dan betapa terkejutnya Chika ketika melihat siapa perempuan yang sejak tadi menikmati rangkulan Ghani dengan manja.

“Jessi?!” Chika membekap mulutnya sendiri, air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulus dan kemerah-merahan. Buru-buru Ghani melepaskan rangkulannya.

“Jess…. Gue nggak percaya….”


Jessi dan Ghani gelagapan. “Chik.. Gue bisa jelasin…”

“Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, sekarang semuanya udah jelas.” Chika sesunggukkan, hatinya teriris melihat Ghani mengkhianatinya, dan ternyata perempuan itu Jessi, lukanya seperti terkena perasan jeruk nipis, perihnya tak tertahan lagi.

“Chik, aku bisa jelasin, maafin aku…” Ghani terlihat menyesal begitu dilihatnya Chika menangis tak terkontrol. “Maafin aku, Chik..” tangannya berusaha meraih tangan Chika, namun Chika menepis.

“Jangan sentuh aku lagi, Ghan, cukup. Aku kecewa banget sama kamu, hubungan kita udah lebih dari tiga tahun dan ternyata kamu khianatin aku, sama dia!” Chika memberi penekanan pada kalimat terakhirnya, sama dia!

“Kamu selingkuh sama sahabat aku sendiri! Dan lo, Jess, lo nggak lebih dari perempuan murahan, lo jahat! Mulai sekarang jangan anggap gue sahabat lo lagi, sahabat nggak ada yang berkhianat!”

“Chik.. maafin gue, gue begini karena…”

 
Belum sempat Jessi menjelaskan, Chika sudah memotong.

“Kita putus, Ghan. Jangan cari aku lagi. Makasih buat semuanya.”


Chika berlalu meninggalkan Jessi yang mematung di depan toko. Jessi tertunduk menangis, menyesali  perbuatannya. Ia menyesal sudah mengkhianati Chika hampir enam bulan belakangan ini. Ya, ternyata Jessi dan Ghani sudah menjalani hubungan gelap ini cukup lama. Sementara Ghani, Ghani berlari mengejar Chika, masih ingin mencoba memperbaiki keadaan. Namun Chika tak memperdulikan, ia segera masuk ke dalam taksi bersama dengan derasnya air mata, nggak memperdulikan teriakan Ghani dari luar sana.

Sabtu, 17 Mei 2014

Benang Hidup (horror story)

Sejak mendengar cerita ini, banyak remaja Jepang yang mempercayai kebenaran cerita ini sehingga tak berani menindik telinganya.

Kisahnya bermula ketika seorang gadis seumuran SMP merengek ada orang tuanya untuk mengizinkannya menindik telinganya. Ia berkata bahwa semua anak perempuan di kelasnya sudah menindik telinganya, hanya ia saja yang belum. Kedua orang tuanya awalnya tak mengizinkan. Namun karena sang gadis merengek terus-menerus, merekapun akhirnya mengizinkannya. Orang tua gadis itu lalu memberinya sejumlah uang dan menyuruh gadis itu untuk menindik telinganya di toko perhiasan yang terpercaya di sebuah mall dekat rumah mereka.

Namun sang gadis berpikiran lain. Ia hendak menyimpan uang pemberian orang tuanya dan memutuskan untuk menindik telinganya sendiri. Iapun meminta sahabatnya untuk membantunya menindik telinganya. Mereka menggunakan jarum yang dipanaskan dan kemudian ditusukkan ke kedua cuping telinga gadis itu. Dia merasa sangat kesakitan, namun begitu melihat hasilnya, ia sangat puas. Ia kini bisa memakai anting-anting pilihannya dan tampil penuh gaya seperti gadis-gadis lain di sekolahnya.

Namun keesokan harinya ada yang aneh. Ia terbangun di pagi hari karena rasa gatal yang teramat sangat di telinganya. Rupanya cuping telinga yang ia tindik terlihat merah dan meradang.Tak hanya itu. Tampak seutas benang putih kecil menjulur dari lubang yang ia buat kemarin di cuping telinganya. Merasa penasaran, ia menarik benang itu. Benang itu sangat halus dan panjang. Ia menariknya terus-menerus, namun seakan-akan benang itu tak ada habis-habisnya. Merasa tak sabar, gadis itu mengambil gunting dan memotong benang putih itu. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Ia histeris dan memanggil kedua orang tuanya. Orang tuanya yang panik segera membawanya ke rumah sakit.

“Mengapa kau bisa jadi begini?” tanya sang dokter yang memeriksanya.

Sang gadis kemudian menceritakan segalanya.

Sang dokter menjawab dengan suara sedih,  “Maaf, tapi harus kukatakan bahwa kau akan mengalami hal ini seumur hidupmu.”

“Kenapa?” tanya gadis itu, tercekat.

“Benang putih yang kau potong itu bukan sembarang benang putih.”

“Benang apa itu?” tanya gadis itu, putus asa.

“Itu saraf matamu.”

Pelajaran Berharga

Suatu ketika seorang Ayah dari keluarga yg sangat kaya raya bermaksud memberi pelajaran kepada Anaknya agar Anaknya dapat mengetahui seperti apakah kehidupan orang miskin itu.
Lalu mereka pun menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yg sangat miskin, di sebuah dusun di tepi hutan. Dalam perjalanan pulang Sang Ayah bertanya kepada Anaknya...

Ayah : "Bagaimana perjalanan kita Nak?"
Anak : "Sangat menarik Yah"
Ayah : "Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup?"
Anak : "Ya Ayah"
Ayah : "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini?"
Anak : "Yang saya pelajari...
Kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, sedangkan Mereka memiliki empat anjing untuk berburu...
Kita punya kolam renang kecil di taman, Mereka punya sungai yang tiada batasnya!
Kita punya lampu untuk menerangi taman kita, Mereka memiliki bintang yang bersinar di malam hari (kunang kunang)
Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup, Mereka hidup bersama alam...
Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi Mereka hidup untuk
melayani orang lain...
Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita, Mereka punya banyak teman yang saling melindungi..."
Ayah : "......"
Sang Ayah tercengang diam tak menyangka akan mendengar jawaban yang keluar dari mulut Anaknya tersebut...Lalu Sang Anak melanjutkan...

"Terima kasih Ayah, karena Ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita..."
Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan? Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki...

Kamis, 15 Mei 2014

Baiklah, silahkan pergi


Hei, kemana kau selama ini?! Menghilang sesukamu dan datang semaumu juga. Sampai kapan? Sampai kapan aku harus bertahan dalam posisi sulit seperti ini? Menahan segala perasaan tentangmu, menahan semua khayalan ku tentangmu, tanpa pernah kau tahu.

Tak pernah kurasakan merindu sekuat ini padamu. Merindu yang membuatku sakit, sesak sendiri.
Aku selalu merasa kau pasti, selalu, dan akan tetap untukku, bagaimanapun itu. Egoisku. Ternyata aku salah, seiring waktu berputar, selama itu pula aku merasa kita semakin jauh. Dan kini, hanya sesak yang ku rasa. Bayanganmu pun tak dapat ku raih lagi.
Kamu bagaikan oksigen yang memberiku kehidupan. Bagaikan selimut yang selalu memberi kehangatan. Bagaikan angin yang memberiku kesejukan. Dan aku terlambat menyadari semua itu. Bodoh? Iya, mungkin aku bodoh. Oh tidak, bukan mungkin, tapi memang...

Aku mengerti, bukan maumu meninggalkanku seperti ini. Aku mengerti bahwa kamu hanya ingin melanjutkan studimu dan dengan cepat menggapai cita-citamu. Aku mengerti, sayang. Aku mengerti ini hanya masalah jarak dan waktu. Tapi apakah harus sesulit ini? Ingin rasanya ku tahu diri dan segera melepaskan ingatanku tentangmu. Tapi bagaimana bisa? Segala cara telah ku coba, namun kau kembali datang, memunculkan memori serta harapan yang mulai ku redam.

Kau tau, Aku masih ingat bagaimana saat itu kau meminta dukungan padaku, menceritakan segala sesuatu yag terjadi selama masa sulitmu, melewati semua tantangan di sekitarmu. Hei! Aku rindu! Kemana sosokmu sekarang??
Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak melihat tampang bodohmu, kelakuan konyolmu, jahilmu, dan sifat lembutmu. Aku rindu.., Aku rindu kamu mengusap manja rambutku, aku rindu bagaimana kamu memperlakukan aku seperti anak kecil yang selalu ingin dimanja. Aku rindu itu semua... Cepatlah pulang, ingin sekali rasanya aku memeluk tubuh jangkungmu lagi.

Oh, tidak, tidak! Atau begini saja, kalau kau memang ingin pergi dari hidupku, baiklah, silahkan pergi.., dan jangan kembali lagi. Jangan buat aku selalu ingin mengutuk nasibku sendiri yang tak pernah berubah, tak pernah berubah menjadi sosok yang penting dalam hidupmu...

Pergilah, dan jangan tutupi pintu hatiku bagi yang lain...