“Chik, udah jam
enam sore nih, ayo pulang.” Ajak Jessi
sambil menarik pelan tangan Chika.
“Mau sampai
kapan bengong disini? Nanti orang tua lo nyariin, udah dong jangan sedih
terus.”
Chika mengangguk
tanda setuju, diraihnya tas selempang dari kursi dan segera beranjak dari café
dan segera naik taksi.
“Sorry ya, Jess.
Habis gimana, gue sedih banget sekarang Ghani berubah.” Wajah Chika terlihat
sangat lesu, matanya menampakan sorot kesedihan.
“Iya, gue
ngerti. Tapi ya sudahlah, sabar aja, mungkin Ghani lagi bosen.”
Chika bergidik.
“Jadi maksud lo, Ghani bosen sama gue?”
Dahinya mengerut.
“Hmm… Enggak..
hmm.. bukan gitu, Chika..” Jessi kikuk, gelagapan karena takut salah bicara
pada Chika yang pikirannya sedang kalang kabut. “Maksud gue bosen sama suasananya,
makanya dia lagi cari suasana baru.”
“Lo kayaknya tau
banget tentang Ghani, apa dia curhat sama lo?” tanya Chika agak curiga.
“Hah? Ya,
enggaklah Chik. Mana pernah Ghani curhat sama gue.” Jessi agak kaget. “Kita ngobrol juga jarang, kalo
gue lagi sama lo dan ada dia, kita juga nggak pernah ngobrol banyak kan. Hehe.”
“Hmm.. Iya juga
sih. “ Tatapan mata Chika masih kosong, terus memikirkan Ghani yang akhir-akhir
ini berubah sikap padanya.
Jessi mengusap
dahinya begitu mendengar jawaban Chika..
Sepanjang jalan
mencurahkan isi hati, nggak terasa ternyata sudah sampai di rumah Chika. Chika
pun turun dari taksi, melambaikan tangan kepada Jessi sambil mengucapkan
terimakasih karena sudah mau mendengarkan semua ceritanya. “Lanjut besok lagi ya!” ucap Jessi bersemangat,
dan taksi berlalu dari rumah Chika.
***
Hari ini Chika
masih terlihat murung, Ghani masih susah dihubungi, ia menghilang begitu saja
bagai ditelan bumi tanpa ingat Chika sedikitpun. Chika sudah tidak tahan,
seharian ini ia sudah mencari Ghani ke kelasnya, nggak ketemu, ke kantin juga
nggak ada, ke semua sudut sekolahpun tetap tidak terlihat batang hidung lelaki
yang sangat dicintainya itu, maklum, sudah lebih dari tiga tahun mereka
pacaran.
“Aaargh! Ghani
dimana sih? Sumpah, kesel!” Chika menjejak-jejakkan kaki dengan kesal ke lantai
kelas.
“Jessi juga!
Nggak masuk segala, hari ini kenapa nyebelin banget sih?! Semua yang dicari
nggak ada!” Chika masih terus marah-marah sendirian, ia cuek, kelas sudah sepi
karena bel sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.
Akhirnya Chika
memutuskan untuk pergi ke mall, sekedar makan eskrim Baskin Robbin’s untuk
mendinginkan hati dan isi kepalanya. Berhubung Jessi nggak masuk, akhirnya
Chika pergi sendirian. Setelah puas menghabisnya satu cup eskrim berukuran
besar, ia berjalan-jalan sebentar mengitari mall, melihat-lihat pernak-pernik
lucu di toko yang menjual barang serba pink.
Lumayam, manjain mata sebentar.
Pikirnya.
Ia keluar toko
dengan dua buah kantung plastik belanjaannya, hatinya sudah mulai merasa agak
damai. Namun baru sebentar kedamaian itu dirasa,ia sudah dihadapkan lagi dengan
pemandangan mencengangkan. Di seberang
toko ia melihat Ghani yang sedang merangkul perempuan.
“Ghani? Iya itu
Ghani!” Chika yakin itu Ghani. “ Astaga, siapa yang dirangkulnya? Ghani kan
nggak punya saudara perempuan.”
Chika menutup
mulut dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca. Perlahan-lahan ia menhampiri
Ghani di seberang dan sengaja diam menunggu di depan, agar tidak terjadi
keributan di dalam toko yang sedang di kunjungi Ghani dengan perempuannya.
Tidak sampai sepuluh menit, mereka keluar. Dan betapa terkejutnya Chika ketika
melihat siapa perempuan yang sejak tadi menikmati rangkulan Ghani dengan manja.
“Jessi?!” Chika
membekap mulutnya sendiri, air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulus dan
kemerah-merahan. Buru-buru Ghani melepaskan rangkulannya.
“Jess…. Gue
nggak percaya….”
Jessi dan Ghani
gelagapan. “Chik.. Gue bisa jelasin…”
“Nggak ada yang
perlu dijelasin lagi, sekarang semuanya udah jelas.” Chika sesunggukkan,
hatinya teriris melihat Ghani mengkhianatinya, dan ternyata perempuan itu
Jessi, lukanya seperti terkena perasan jeruk nipis, perihnya tak tertahan lagi.
“Chik, aku bisa
jelasin, maafin aku…” Ghani terlihat menyesal begitu dilihatnya Chika menangis
tak terkontrol. “Maafin aku, Chik..” tangannya berusaha meraih tangan Chika,
namun Chika menepis.
“Jangan sentuh
aku lagi, Ghan, cukup. Aku kecewa banget sama kamu, hubungan kita udah lebih
dari tiga tahun dan ternyata kamu khianatin aku, sama dia!” Chika memberi penekanan
pada kalimat terakhirnya, sama dia!
“Kamu selingkuh
sama sahabat aku sendiri! Dan lo, Jess, lo nggak lebih dari perempuan murahan,
lo jahat! Mulai sekarang jangan anggap gue sahabat lo lagi, sahabat nggak ada
yang berkhianat!”
“Chik.. maafin
gue, gue begini karena…”
Belum sempat
Jessi menjelaskan, Chika sudah memotong.
“Kita putus,
Ghan. Jangan cari aku lagi. Makasih buat semuanya.”
Chika berlalu
meninggalkan Jessi yang mematung di depan toko. Jessi tertunduk menangis,
menyesali perbuatannya. Ia menyesal
sudah mengkhianati Chika hampir enam bulan belakangan ini. Ya, ternyata Jessi
dan Ghani sudah menjalani hubungan gelap ini cukup lama. Sementara Ghani, Ghani
berlari mengejar Chika, masih ingin mencoba memperbaiki keadaan. Namun Chika
tak memperdulikan, ia segera masuk ke dalam taksi bersama dengan derasnya air
mata, nggak memperdulikan teriakan Ghani dari luar sana.