Kamis, 15 Mei 2014

Baiklah, silahkan pergi


Hei, kemana kau selama ini?! Menghilang sesukamu dan datang semaumu juga. Sampai kapan? Sampai kapan aku harus bertahan dalam posisi sulit seperti ini? Menahan segala perasaan tentangmu, menahan semua khayalan ku tentangmu, tanpa pernah kau tahu.

Tak pernah kurasakan merindu sekuat ini padamu. Merindu yang membuatku sakit, sesak sendiri.
Aku selalu merasa kau pasti, selalu, dan akan tetap untukku, bagaimanapun itu. Egoisku. Ternyata aku salah, seiring waktu berputar, selama itu pula aku merasa kita semakin jauh. Dan kini, hanya sesak yang ku rasa. Bayanganmu pun tak dapat ku raih lagi.
Kamu bagaikan oksigen yang memberiku kehidupan. Bagaikan selimut yang selalu memberi kehangatan. Bagaikan angin yang memberiku kesejukan. Dan aku terlambat menyadari semua itu. Bodoh? Iya, mungkin aku bodoh. Oh tidak, bukan mungkin, tapi memang...

Aku mengerti, bukan maumu meninggalkanku seperti ini. Aku mengerti bahwa kamu hanya ingin melanjutkan studimu dan dengan cepat menggapai cita-citamu. Aku mengerti, sayang. Aku mengerti ini hanya masalah jarak dan waktu. Tapi apakah harus sesulit ini? Ingin rasanya ku tahu diri dan segera melepaskan ingatanku tentangmu. Tapi bagaimana bisa? Segala cara telah ku coba, namun kau kembali datang, memunculkan memori serta harapan yang mulai ku redam.

Kau tau, Aku masih ingat bagaimana saat itu kau meminta dukungan padaku, menceritakan segala sesuatu yag terjadi selama masa sulitmu, melewati semua tantangan di sekitarmu. Hei! Aku rindu! Kemana sosokmu sekarang??
Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak melihat tampang bodohmu, kelakuan konyolmu, jahilmu, dan sifat lembutmu. Aku rindu.., Aku rindu kamu mengusap manja rambutku, aku rindu bagaimana kamu memperlakukan aku seperti anak kecil yang selalu ingin dimanja. Aku rindu itu semua... Cepatlah pulang, ingin sekali rasanya aku memeluk tubuh jangkungmu lagi.

Oh, tidak, tidak! Atau begini saja, kalau kau memang ingin pergi dari hidupku, baiklah, silahkan pergi.., dan jangan kembali lagi. Jangan buat aku selalu ingin mengutuk nasibku sendiri yang tak pernah berubah, tak pernah berubah menjadi sosok yang penting dalam hidupmu...

Pergilah, dan jangan tutupi pintu hatiku bagi yang lain...

2 komentar: