Selasa, 08 Juli 2014

CHIKA

“Chik, udah jam enam sore nih, ayo pulang.”  Ajak Jessi sambil menarik pelan tangan Chika.

“Mau sampai kapan bengong disini? Nanti orang tua lo nyariin, udah dong jangan sedih terus.”

Chika mengangguk tanda setuju, diraihnya tas selempang dari kursi dan segera beranjak dari café dan segera naik taksi.

“Sorry ya, Jess. Habis gimana, gue sedih banget sekarang Ghani berubah.” Wajah Chika terlihat sangat lesu, matanya menampakan sorot kesedihan.
 
“Iya, gue ngerti. Tapi ya sudahlah, sabar aja, mungkin Ghani lagi bosen.”

Chika bergidik.

 “Jadi maksud lo, Ghani bosen sama gue?” Dahinya mengerut.

“Hmm… Enggak.. hmm.. bukan gitu, Chika..” Jessi kikuk, gelagapan karena takut salah bicara pada Chika yang pikirannya sedang kalang kabut. “Maksud gue bosen sama suasananya, makanya dia lagi cari suasana baru.”

“Lo kayaknya tau banget tentang Ghani, apa dia curhat sama lo?” tanya Chika agak curiga.

“Hah? Ya, enggaklah Chik. Mana pernah Ghani curhat sama gue.” Jessi  agak kaget. “Kita ngobrol juga jarang, kalo gue lagi sama lo dan ada dia, kita juga nggak pernah  ngobrol banyak kan. Hehe.”

“Hmm.. Iya juga sih. “ Tatapan mata Chika masih kosong, terus memikirkan Ghani yang akhir-akhir ini berubah sikap padanya.

Jessi mengusap dahinya begitu mendengar jawaban Chika..

Sepanjang jalan mencurahkan isi hati, nggak terasa ternyata sudah sampai di rumah Chika. Chika pun turun dari taksi, melambaikan tangan kepada Jessi sambil mengucapkan terimakasih karena sudah mau mendengarkan semua ceritanya.  “Lanjut besok lagi ya!” ucap Jessi bersemangat, dan taksi berlalu dari rumah Chika.
***
Hari ini Chika masih terlihat murung, Ghani masih susah dihubungi, ia menghilang begitu saja bagai ditelan bumi tanpa ingat Chika sedikitpun. Chika sudah tidak tahan, seharian ini ia sudah mencari Ghani ke kelasnya, nggak ketemu, ke kantin juga nggak ada, ke semua sudut sekolahpun tetap tidak terlihat batang hidung lelaki yang sangat dicintainya itu, maklum, sudah lebih dari tiga tahun mereka pacaran.

“Aaargh! Ghani dimana sih? Sumpah, kesel!” Chika menjejak-jejakkan kaki dengan kesal ke lantai kelas.

“Jessi juga! Nggak masuk segala, hari ini kenapa nyebelin banget sih?! Semua yang dicari nggak ada!” Chika masih terus marah-marah sendirian, ia cuek, kelas sudah sepi karena bel sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.

Akhirnya Chika memutuskan untuk pergi ke mall, sekedar makan eskrim Baskin Robbin’s untuk mendinginkan hati dan isi kepalanya. Berhubung Jessi nggak masuk, akhirnya Chika pergi sendirian. Setelah puas menghabisnya satu cup eskrim berukuran besar, ia berjalan-jalan sebentar mengitari mall, melihat-lihat pernak-pernik lucu di toko yang menjual barang serba pink.

Lumayam, manjain mata sebentar. Pikirnya.

Ia keluar toko dengan dua buah kantung plastik belanjaannya, hatinya sudah mulai merasa agak damai. Namun baru sebentar kedamaian itu dirasa,ia sudah dihadapkan lagi dengan pemandangan mencengangkan.  Di seberang toko ia melihat Ghani yang sedang merangkul perempuan.

“Ghani? Iya itu Ghani!” Chika yakin itu Ghani. “ Astaga, siapa yang dirangkulnya? Ghani kan nggak punya saudara perempuan.”

Chika menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca. Perlahan-lahan ia menhampiri Ghani di seberang dan sengaja diam menunggu di depan, agar tidak terjadi keributan di dalam toko yang sedang di kunjungi Ghani dengan perempuannya. Tidak sampai sepuluh menit, mereka keluar. Dan betapa terkejutnya Chika ketika melihat siapa perempuan yang sejak tadi menikmati rangkulan Ghani dengan manja.

“Jessi?!” Chika membekap mulutnya sendiri, air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulus dan kemerah-merahan. Buru-buru Ghani melepaskan rangkulannya.

“Jess…. Gue nggak percaya….”


Jessi dan Ghani gelagapan. “Chik.. Gue bisa jelasin…”

“Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, sekarang semuanya udah jelas.” Chika sesunggukkan, hatinya teriris melihat Ghani mengkhianatinya, dan ternyata perempuan itu Jessi, lukanya seperti terkena perasan jeruk nipis, perihnya tak tertahan lagi.

“Chik, aku bisa jelasin, maafin aku…” Ghani terlihat menyesal begitu dilihatnya Chika menangis tak terkontrol. “Maafin aku, Chik..” tangannya berusaha meraih tangan Chika, namun Chika menepis.

“Jangan sentuh aku lagi, Ghan, cukup. Aku kecewa banget sama kamu, hubungan kita udah lebih dari tiga tahun dan ternyata kamu khianatin aku, sama dia!” Chika memberi penekanan pada kalimat terakhirnya, sama dia!

“Kamu selingkuh sama sahabat aku sendiri! Dan lo, Jess, lo nggak lebih dari perempuan murahan, lo jahat! Mulai sekarang jangan anggap gue sahabat lo lagi, sahabat nggak ada yang berkhianat!”

“Chik.. maafin gue, gue begini karena…”

 
Belum sempat Jessi menjelaskan, Chika sudah memotong.

“Kita putus, Ghan. Jangan cari aku lagi. Makasih buat semuanya.”


Chika berlalu meninggalkan Jessi yang mematung di depan toko. Jessi tertunduk menangis, menyesali  perbuatannya. Ia menyesal sudah mengkhianati Chika hampir enam bulan belakangan ini. Ya, ternyata Jessi dan Ghani sudah menjalani hubungan gelap ini cukup lama. Sementara Ghani, Ghani berlari mengejar Chika, masih ingin mencoba memperbaiki keadaan. Namun Chika tak memperdulikan, ia segera masuk ke dalam taksi bersama dengan derasnya air mata, nggak memperdulikan teriakan Ghani dari luar sana.

1 komentar: